Transformasi Digital: Cara Praktis Mengukur Kesiapan Organisasi

Transformasi digital sudah terjadi. Banyak yang sudah menyadarinya, namun kebanyakan hanya sebatas sadar belaka. Hanya sedikit yang berupaya menyambut era digitalisasi dan mengadaptasi perubahan yang ditimbulkannya.

Padahal, fenomena digitalisasi di Indonesia begitu kuat. Lihat saja tingkat penggunaan smartphone di negeri kita. E-marketer memprediksi pemakai telepon pintar di Indonesia pada 2018 akan menembus lebih dari 100 juta orang. Fakta ini menandakan transformasi digital bukan hanya asumsi belaka.

Kondisi ini memaksa setiap organisasi mesti berbenah. Mereka harus siap berubah menuju era transformasi digital jika tidak ingin tertinggal. Tapi, apakah institusi Anda sudah siap untuk menghadapi era digitalisasi? Anda dapat mengukurnya dengan beberapa kriteria berikut ini.

KEBERADAAN PEMIMPIN DIGITAL DI ORGANISASI

Transformasi digital bukan sekadar pemanfaatan teknologi dalam satu proses operasi saja. Lebih dari itu, transformasi digital merupakan perubahan di segenap aspek perusahaan secara menyeluruh. Semua pihak di dalam organisasi mesti mau dan bisa memanfaatkan teknologi untuk efektivitas kerja dan kemajuan perusahaan.

Karena sangat kompleks, transformasi digital butuh seseorang yang akan dan bisa menjadi pemimpin untuk mengarahkannya. Biasanya Chief Digital Officer (CDO) yang menjadi figur tersebut. Ia yang memimpin proses transformasi digital di sebuah perusahaan. Kalau posisi CDO ada, berarti organisasi Anda sudah siap menyambut era digitalisasi.

Meski begitu, CDO bukan satu-satunya keharusan. Lebih penting adalah keberadaan seorang pemimpin yang mengarahkan transformasi digital. Apa pun titel yang disematkan kepadanya tidaklah penting. Apakah organisasi Anda sudah memilikinya?

ADA DUKUNGAN MAKSIMAL DARI MANAJEMEN TERTINGGI

 Transformasi-Digital-Cara-Praktis-Mengukur-Kesiapan-Organisasi

Source: Shutterstock.

Resisten terhadap perubahan merupakan sifat alami manusia. Orang enggan berubah karena akan mengusik kenyamanan yang dirasakan. Inilah alasan yang mendasari bahwa transformasi digital hanya akan berhasil jika ada dukungan penuh dari manajemen tertinggi di sebuah organisasi.

Perusahaan Anda boleh memiliki CDO atau posisi semacamnya. Namun, karena mesti bertugas membenahi segala aspek, ia pasti akan berbenturan dengan berbagai pihak lain. Besar kemungkinan akan ada pihak-pihak yang enggan menyambut transformasi digital dengan berbagai alasan. Dalam kondisi seperti ini, dukungan penuh dari manajemen tertinggi di organisasi sangat penting. Hal itu akan membuat CDO bisa melakukan tugasnya dengan baik.

Sudahkan situasi perusahaan tempat Anda bernaung seperti itu? Jika belum, besar kemungkinan organisasi Anda belum siap untuk menyambut era digitalisasi. Nasibnya bisa seperti Kodak yang disebut oleh Head of Database and Technology SAP Amerika Utara, Tony Evans, sebagai pihak yang gagal dalam transformasi digital akibat ketidakseriusan jajaran manajemen teratas. Akibatnya kini Kodak bukan lagi pemain utama dalam industri kamera digital.

PEMIMPIN MAU MENGADOPSI METODOLOGI BARU

Kata kunci dalam transformasi digital adalah perubahan. Kemauan untuk berubah menjadi syarat utama agar proses digitalisasi berhasil. Maka, sebuah organisasi bisa disebut tengah mengarah dengan tepat ke era digitalisasi jika pemimpinnya mau mengadopsi metodologi baru.

Pemimpin mesti memiliki pola pikir terbuka. Ia harus mau menggunakan sejumlah cara baru dalam menyelesaikan masalah di organisasinya. Hal ini bisa ditunjukkan dengan merekrut orang-orang dengan posisi anyar di perusahaan, katakanlah seperti Economists, Physicists, atau Engineers.

Mulanya orang-orang di posisi tersebut merupakan sosok asing dalam perusahaan. Namun, di era digitalisasi, keberadaan mereka begitu dibutuhkan. Merekalah yang mampu menghadirkan solusi berbagai problem perusaahaan dengan cara-cara yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Sudahkah organisasi Anda mempunyai orang-orang seperti itu?

SEMUA PIHAK MENDUKUNG KEHADIRAN INOVASI

 Transformasi-Digital-Cara-Praktis-Mengukur-Kesiapan-Organisasi

Source: Shutterstock.

Inovasi merupakan salah satu bentuk perubahan. Kehadiran berbagai inovasi wajib didukung oleh sebuah organisasi jika ingin berhasil dalam transformasi digital. Tanpa itu semua, nyaris mustahil bagi perusahaan untuk bersaing di era digital.

Oleh karena itu, semua pihak di dalam organisasi wajib mendukung apa pun inovasi yang dilakukan. Tugas bagi manajemen ialah menciptakan iklim agar inovasi tumbuh dan berkembang di dalam organisasinya. Bahkan, proses transformasi digital justru akan lebih cepat berhasil jika inovasi dilakukan sampai dengan level individu.    

Jangan justru berlaku sebaliknya dengan mematahkan inovasi. Sebab, dari inovasi hadir beragam solusi permasalahan yang dihadapi. Ingatlah bahwa proses digitalisasi di Indonesia begitu kuat sehingga tuntutan untuk berubah sangat besar.

PARTNER KERJA YANG SIAP BERUBAH

Lagi-lagi hal yang sangat menentukan dalam proses transformasi digital sebuah organisasi ialah perubahan. Berharaplah semua pihak di dalamnya mau melakukannya, termasuk partner kerja Anda. Jika sudah seperti itu, maka organisasi tempat Anda bernaung sudah siap menuju ke era digitalisasi.

Sudah dijelaskan sebelumnya bahwa proses digitalisasi bukanlah langkah yang dilakukan per bagian. Transformasi digital dilakukan secara menyeluruh oleh semua pihak di dalam organisasi. Jika ada pihak yang resisten terhadap perubahan untuk menuju ke digital transformation, maka proses yang diharapkan bisa terancam gagal.

Maka, keberadaan partner kerja, entah rekan di satu bagian ataupun di bagian lain yang punya pola pikir serupa, sangat penting. Tanpa rekan kerja yang siap dan mau berubah, proses transformasi digital tidak bisa berjalan mulus di organisasi Anda.